Nasehat Syaitan

           Setan tak pernah berhenti menggoda, dan memberi angan-angan kosong kepada setiap manusia. Pada kasus tertentu, karena satu dan lain sebab, mereka berani merasuki tubuh manusia. Tetapi kita jangan salah sangka, sekalipun di sana-sini terjadi kerasukan masal, akhir-akhir ini pekerjaan setan jauh berkurang.

Berkurangnya pekerjaan setan ini, bukan karena berkurangnya jumlah anak cucu Adam. Hanya saja, banyak dari manusia yang tanpa peran setan pun telah terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan. Bahkan sebagian, seperti juga setan, menjadi pelopor dan mengajak orang lain untuk berbuat dosa. Dengan kata lain, tanpa harus susah payah bekerja menggoda, manusianya sudah banyak yang “setan”. 

Iblis selaku dedengkot setan, pada masa Nabi Musa as. pernah datang dan berdialog dengan beliau. “Hai Musa, engkau telah dipilih Allah dengan risalah-Nya, dan Allah telah berbicara denganmu. Aku ini makhluk Allah juga. Aku ingin bertaubat. Mohonkanlah syafaat untukku agar Allah mengampuniku”, rengek setan kepada Nabi Musa.

Karena rasa kasihan, Musa as. berdoa memohon ampunan bagi setan. Allah yang Maha Mengetahui segalanya menjawab permohonan Musa ini dengan firman-Nya, “Musa, Aku penuhi permintaanmu. Tapi katakan kepada iblis agar dia bersujud kepada kuburan Adam terlebih dahulu”.

Nabi Musa as., menyampaikan jawaban Allah atas permohonan doanya. Namun dasar iblis, dengan angkuh ia berkata, “Dulu, ketika Adam masih hidup aku tak mau bersujud kepadanya. Mana mungkin aku harus bersujud kepadanya setelah mati?”.

Atas “jasa baik” Musa as. ini, Iblis memberi hadiah berupa sebuah “nasehat”, yang sangat berharga bagi setiap manusia. Ia membuka kartu tentang rahasia  dalam  menjerumuskan anak cucu Adam.

“Musa, aku berhutang budi padamu. Engkau telah memintakan ampun kepada Tuhan untukku. Sekarang aku akan memberi nasehat. Ingatlah aku dalam 3 keadaan, agar aku tidak membinasakanmu”, ucap iblis.

“Pertama, kalau engkau marah, ingatlah aku. Sebab bila engkau marah, ruhku berada dalam hatimu dan mataku berada dalam matamu. Kedua, ingatlah aku ketika engkau menghadapi pertempuran. Aku datangi anak Adam. Aku ingatkan dia tentang anak istrinya, dan keluarganya hingga ia meninggalkan medan pertempuran. Ketiga, hindarilah berduan bersama seorang perempuan yang bukan mahram. Ketahuilah, pada saat itu aku menjadi utusanmu untuknya, dan menjadi utusannya untukmu”.

Inilah tiga nasehat setan yang dibocorkan kepada Nabi Musa. Bukan berarti setan hanya akan menggoda dalam tiga keadaan di atas, hanya saja ketiganya termasuk jalan yang paling ampuh untuk menjerumuskan dan membinasakan manusia.

Dalam keadaan dan situasi apapun juga, setan senantiasa hadir menyertai kita. “Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil" (Q. S. 17; 62). Demikian janji setan yang dikutip dalam Al-Quran, dalam ayat lain, “kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Al-A’raf. 7; 17)  

            Mungkin karena “kesal” tak ditampilkan lagi di TV, kini para setan membuat ulah dengan merasuki tubuh manusia secara masal. Namun yang perlu kita ingat, selain kerasukan dengan gejala berteriak, mata melotot, dan mengerang, jutaan manusia dasarnya telah mengalami kerasukan dengan gejala yang lain. Dan kerasukan jenis kedua ini, jauh lebih berbahaya dari jenis pertama.

Karena bila seseorang kerasukan dengan gejala seperti pada umumnya, minimal orang lain akan membacakan ayat Al-Quran, bahkan sering kali mendatangkan ahli ruqyah hingga memanggil kyai. Namun bila manusia yang kerasukan tak mengalami gejala apapun, mana mungkin ia atau orang lain berusaha melepaskannya?   

Padahal perkelahian, penganiayaan, bahkan pembunuhan kerap kali berawal dari marah. Dan seperti “nasehat” setan kepada Nabi Musa, saat itulah ia memainkan  perannya dengan “merasuki” manusia. Begitu juga dengan meninggalkan jihad dan perzinahan.   

            Tetapi yang wajib selalu kita ingat, bagaimanapun juga, manusia adalah hamba Allah. Sedang kemampuan dan “kewenangan” setan dalam mengganggu dan merasuki manusia tetap memiliki batasan. Secara tegas Allah berfirman, “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu (iblis/setan) tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga".(Q. S. 17; 65)

            Namun tidak demikian bagi mereka, yang sadar ataupun tidak, telah menjadi hamba setan. Untuk itu, ada baiknya juga kita ikuti “nasehat” setan.

 


 

 

Go to top