JANGAN BUANG KUNCI SURGA

           
                 Konon Nabi Musa AS, pernah bertanya kepada Allah mengenai kawan beliau kelak di surga. Setelah mendapat jawaban mengenai identitas orang tersebut, dengan “penasaran” Musa pergi mencarinya.

            Sewaktu bertemu, Musa berusaha mengorek informasi tentang amal yang mampu menempatkannya di surga. Seluruh gerak-gerik si pemuda diperhatikan dari jam ke jam, namun belum juga tampak keistimewaan. Dengan menyembunyikan identitas yang sebenarnya, Musa berkunjung ke rumah pemuda tadi.

Kondisi di rumahpun ternyata tak berbeda jauh. Yang tampak beda, ia  sering masuk ke sebuah bilik yang ada di bagian  depan rumah. Karena ingin tahu, Musa mendekat ke arah bilik. Tak lama kemudian, sayup-sayup terdengar suara seorang wanita tua berdoa, “Ya Allah, jadikanlah anakku ini kelak teman Musa di surga”.

            Saat si pemuda keluar dari bilik kamar, Nabi Musa segera memeluknya sambil berucap, “Berbahagilah wahai pemuda, karena akulah Musa. Insya Allah kita akan bertemu kembali di surga. Tetapi siapa wanita yang mendoakanmu tadi?”

            Si pemuda bercerita, bahwa wanita yang berada di bilik kamar tersebut adalah ibunya. Karena usia dan penyakit yang diderita, dalam beberapa tahun ini ia tak mampu lagi untuk berjalan. “Setiap hari, akulah yang menyuapi makan ibuku, memberinya minum, memandikan, membuang kotoran dan segala keperluanya”, jelas Si pemuda.

            Tanpa diragukan lagi, berkat bakti dan doa ibunyalah si pemuda mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Bahkan Rasulullah SAW bertutur, bahwa  keridhaan dan kemurkaan Allah tergantung keridhaan dan kemurkaan kedua orang tua.

Dalam kesempatan lain beliau mengingatkan, “Celaka bagi mereka yang mempunyai kedua orang tua atau salah satu diantaranya, namun tak mampu memasukkannya ke surga”. Celaka, karena surga yang ada dihadapannya tak mampu ia raih. Padahal tanpa perlu jihad dengan mempertaruhkan jiwa, tanpa perlu menghabiskan harta, hanya dengan bakti, surga dapat diraih.

Namun yang perlu diingat, hadits di atas secara tersirat juga mengingatkan mengenai “beratnya” melaksanakan bakti kepada kepada orang tua, khususnya ibu. Tak satupun manusia yang mampu membalas cinta, kasih sayang, dan kebaikan ibunya hingga sepadan. Karena itu juga, Allah memerintahkan untuk membalasnya dengan berbuat baik.

Bagaimana mungkin terbalas? Kasih sayang seorang ibu terhadap anak bersifat fitri atau naluri, sedang anak terhadap ibu? Karena itu juga, dalam beberapa ayat Al-Quran Allah memerintahkan untuk membalas jasa orang tua “hanya” dengan berbuat baik atau berbakti. “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”. (Q. S. 2: 83; 4: 36; 4: 151)              

Berbuat baik atau berbakti, dengan tidak membentak mereka, bersikap sopan, dan selalu merendahkan diri dengan penuh kasih sayang (Q. S. 17: 23-24) Perintah ini, lebih ditekankan oleh Allah dengan kalimat, “Bila salah satu atau keduanya memasuki usia lanjut”.

Yang perlu kita ingat, pemberian materi tanpa perlakuan yang sopan, bukanlah sebuah kebaktian. Termasuk juga memasukkan ke panti jompo, atau menyerahkan pemeliharaan kepada orang lain. Atau juga merawat, namun dengan setengah hati.  Semua ini, bagai membuang kunci surga yang ada di tangan kita.

Moment peringatan hari ibu, merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk mengevaluasi tentang bagaimana kita selama ini “merawat” kunci surga. Jangan kita mondar-mandir susah payah mencari kunci lain, sementara yang di hadapan mata malah terabaikan. Dan bila itu terjadi, kita akan menuai karma di dunia sebelum akhirat.         

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Siapakah orang yang paling berhak kuperlakukan dengan baik?”. “Ibumu”, jawab Nabi. Saat ditanya siapa selanjutnya, hingga 3 kali Rasulullah menjawab dengan “Ibumu”.

Yang tak kalah penting selain sikap dan perlakuan yang sopan, Allah secara langsung mengajarkan kita agar mendoakan mereka, “Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil”. (Q. S. 17: 24)

Doa di atas adalah alternatif paling mudah bagi seorang anak untuk berbakti kepada kedua orang tua, khususnya ibu. Doakanlah mereka selalu, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggalkan kita, dengan penuh ikhlas dan kasih sayang.

Raihlah kesempatan 

Pada bulan Sya’ban menjelang Ramadhan, Rasulullah SAW pernah berkhutbah mengingatkan ummatnya mengenai Ramadhan. Beliau mengawali khutbahnya dengan bersabada, "Hai manusia, sungguh akan tiba pada kalian bulan yang agung, bulan barakah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.”.

“Allah mewajibkan puasa di dalamnya, dan shalat malam (tarawih) merupakan sunnah. Siapa yang mendekatan diri kepada Allah dengan berbuat kebajikan, maka

(mendapat pahala) bagaikan orang yang mengerjakan fardhu (wajib) di bulan lain. Dan siapa yang mengerjakan fardhu, maka sama dengan tujuh puluh fardhu di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan sabar pahalanya surga. Ia juga bulan tolong-menolong, dan bulan bertambahnya rezeki.

“Siapa yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, maka akan  diampunani dosanya, dilepaskan dirinya dari siksa neraka, dan akan mendapatakan pahala seperti orang yang diberi buka tersebut tanpa mengurangi pahalanya sendiri."

Mendengar janji pahala di atas, para sahabat dari kalangan yang kurang mampu bertanya, "Ya Rasulullah, tidak semua dari kami mampu memberi buka puasa?". Rasulullah SAW menjelaskan, "Allah akan memberi pahala seperti itu, pada orang yang memberi buka walau hanya dengan sebiji kurma, seteguk air, atau seteguk susu.”

Setelah menjawab pertanyaan sahabat di atas, Rasulullah SAW melanjutkan khutbahnya, "Bulan Ramadhan itu permulaannya rahmat, pertengahannya pengampunan, dan akhirnya pembebasan dari neraka. Siapa yang meringankan budaknya (pegawainya), maka Allah akan mengampunkan dan membebaskannya dari api neraka.

“Perbanyanklah di dalamnya dengan empat hal. Dua untuk mencari keridhaan Tuhanmu, dan yang dua lagi kamu sangat membutuhkannya. Adapun dua hal untuk mencari keridhaan Tuhanmu, maka bacalah, Asyhadu an laa ilaaha illallah dan mohonlah ampun (istighfar). Sedang dua hal yang kamu sangat membutuhkanya, mintalah surga kepada Allah (nas'alukal jannata) dan berlindunglah dari neraka (wa nauudzu bika minan naar).

“Siapa yang memberi minum kepada orang yang berpuasa, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku, yang dengan satu tegukan tidak akan merasa haus untuk selamanya". Demikian hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Salman Al-Faarisi ra.

Sungguh sebuah kenikmatan yang tak ternilai, bagi mereka yang masih dikunjungi Ramadhan. Dan tentu saja sangat disayangkan, bahkan tak salah bila dikatakan musibah, bila Ramadhan berlalu tanpa mendapatkan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari neraka.

Agar musibah itu tak menimpa diri dan keluarga kita, di hari-hari inilah saat yang tepat untuk mempersiapkan diri dalam menyambut Ramadhan. Berapa banyak sedekah yang akan kita keluarkan? Berapa banyak Al-Quran yang akan kita baca? Berapa banyak shalat tarawih yang akan kita lakukan? Berapa hari kita akan i’tikaf di masjid?….

Seseorang yang memasuki Ramadhan dengan keniatan yang baik, pasti akan berbeda dengan mereka yang tanpa keniatan atau juga persiapan. Pengaruh niat akan muncul saat pelaksaan amal, maupun sesudahnya.  

Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW, bahwa sesungguhnya amal sesorang tergantung dari niat. Bahkan dalam sebuah riwayat beliau SAW bersabda, “Niat seorang mukmin lebih bagus dari amalnya”.  Hal ini berhubungan dengan sebuah Hadits Qudsi yang menyebutkan, bahwa seseorang yang berniat untuk melakukan suatu amal, akan dicatat oleh Allah satu pahala.

Bulan “mega bonus pahala” segera tiba. Dan kenikmatan berupa kesempatan ini belum tentu akan terulang kembali kepada kita. Karena itu juga, tak aneh bila malaikat Jibril dalam suatu kesempatan pernah berucap, “Kerugian besar bagi mereka yang menemui Ramadhan, namun belum diampuni hingga meninggal dunia dan masuk neraka. Semoga Allah menjauhkannya”

Selesai mengucapkan kalimat di atas, Jibril memerintahkan Nabi SAW untuk berucap “Aamiin”. “Doa” malaikat yang diamini oleh Nabi SAW ini, secara tersirat menggambarkan bagaimana sangat ruginya mereka yang mendapati kesempatan, namun tak mampu untuk meraih dan memanfaatkannya.    

Bacalah, agar tak dijajah

Kecuali Portugis, konon sampai abad ke-16, para pelaut Eropa belum mengetahui jalur pelayaran ke negara Timur melalui Tanjung Harapan. Tak aneh bila mereka, orang-orang Portugis, berkelana ke berbagai negeri untuk meraup keuntungan.

     Pada tahun 1595, Jan Huygen Van Linschoten yang  berkebangsaan Belanda menulis sebuah buku yang berjudul Itinerarrio. Dalam buku tersebut ia menguraikan jalur pelayaran di Lautan Hindia dan perdagangan orang-orang Portugis di negara-negara Timur.

     Keterangan yang ia dapatkan berkat jabatannya sebagai sekretaris Uskup Agung di Goa ini, beberapa tahun kemudian, setelah buku itu dicetak dan beredar luas, telah menjadi rahasia umum. Para pedagang Belanda yang mendapat informasi ini segera mencoba jalur tersebut. Dan akhirnya seperti yang kita ketahui, mereka bukan hanya berdagang tetapi kerasan hingga menjajah selama tiga setengah abad.

     Tak pelak lagi, bahwa membaca (ilmu) merupakan kunci untuk maju, berkembang dan mengetahui segalanya. Karena itu juga sebagai penjajah, Belanda tak ingin melihat orang Indonesia pandai membaca apalagi memiliki ilmu yang tinggi. Kalaupun memberi kesempatan, sebatas bagi mereka yang sekiranya jika memiliki ilmu masih dapat diajak bekerja sama.

     Sebagai gambaran tentang kondisi di atas, adalah keadaan para regent atau kanjeng bupati di akhir abad ke 19. Saat itu jabatan regent merupakan puncak karier bagi bangsa Indonesia, tetapi dari seluruh regent se Jawa-Madura, konon hanya 4 orang yang mampu menulis dan berbahasa Belanda dengan baik dan benar. Ini regent, bagaimana dengan rakyat biasa?

            Ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk, pada dasarnya menentang kebodohan. Islam menjunjung tinggi ilmu dan ulama, mereka yang berilmu dari disiplin ilmu apapun. Sedang pintu untuk masuk kepada ilmu, tak ada jalan lain kecuali dengan membaca.

Rasulullah SAW diutus di tengah-tengah penduduk yang mayoritas dan dikenal sebagai kaum buta huruf. Dalam kaitan ini Alllah SWT berfirman, “Dialah (Allah) yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah).” (Q. S. 62; 2)

Bahkan bangsa Arab pada masa itu menganggap rendah mereka yang mampu membaca. Mereka berpendirian, bahwa orang yang tidak buta huruf berarti lemah hafalannya.  Karena itu juga, beliau SAW sendiri juga buta huruf.

Walau demikian, namun Islam lahir untuk memberantas kebodohan dan buta huruf. Firman Allah yang pertama kali diturunkanpun telah mengisyaratkan hal tersebut. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.” (Q. S. 96; 1-4)

Semasa hidupnya, Rasulullah SAW mendorong para sahabat untuk terus mencari ilmu. Sebagai contoh dalam menyelesaikan masalah tawanan kaum kafir Quraisy dalam Perang Badr.  Beliau mengambil keputusan, akan membebaskan tawanan kafir yang mampu mengajar baca-tulis 10 ummat Islam. 

Cukup banyak ayat maupun hadits Nabi yang menerangkan mengenai keutamaan ilmu dan para pemiliknya. Bahkan dalam sabdanya beliau SAW menyebutkan ulama (mereka yang berilmu) sebagai pewaris para nabi. Tinta para ulama diserupakan dengan darah para syuhada’ dan lain-lain.

Kejayaan Islam sepeninggal Rasulullah SAW ditandai dengan kemunculan para ulama di zamannya. Ribuan karya ilmiah dari berbagai disiplin ilmu mereka karang dan memenuhi perpustakaan. Dan kejatuhan ummat Islam setelah itu, juga ditandai dengan lepasnya penguasaan berbagai ilmu. Kejatuhan Bagdad yang disertai pembakaran perpustakaan ummat Islam pada abad ke-12 bagai menamatkan seluruh cerita kejayaan Islam.

Kondisi Bangsa Indonesia sebagai pemeluk Islam terbanyak di dunia masih sangat memprihatinkan. Sekalipun telah 60 tahun merdeka, namun pendidikan belum mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya. Di masa penjajahan, Belanda khawatir bila banyak penduduk yang berilmu. Di alam kemerdekaan ?

Janji pendidikan murah tak pernah terealisasi, apalagi gratis. Semakin banyak yang menjanjikan, kenyataan yang ada justru semakin mahal. Karena itu juga, tak aneh rasanya bila terus bermunculan anak-anak yang bunuh diri karena tak memiliki biaya sekolah. Sambil menunggu terealisasinya janji pendidikan murah, masih ada cara untuk menambah ilmu. Dan cara itu tak lain adalah membaca.

Membaca, merupakan cara termudah dan “gratis”, untuk menambah pengetahuan. Belanda menjajah, bermula dari membaca. Dan kita terjajah karena tak mampu membaca. Bila tak ingin “dijajah”, maka perbanyaklah membaca (ilmu).

 

 
Go to top